Hay teman”,
Apa kabar nie ? kali ini saya gak akan share
link”,software,gemes,atau yang lain”. Tapi saya ingin share cerita yang saya
karang sendiri dan saya berharap supaya cerita yang saya karang ini dapat
menjadi referensi bagi para pecinta cerpen atau novel meskipun saya belum
memiliki pengalaman menulis seperti itu sebelumnya tapi saya Cuma ingin sekedar
berbagi cerita yang dikutip dari kisah nyata namun di masukkan dalam sebuah
rangkayan kata yang melukiskan sebuah keadaan kisah yang menyenangkan,mengharukan,membahagiakan,dan
menyedihkan.
Selamat membaca.
Aku dan Si Kecil.
Pada
suatu hari di pagi yang indah aku berjalan sendiri mengitari desa tempat dimana
aku tinggal untuk sekedar mengisi waktu luang di kala liburan sekolah tiba.
Seolah waktu terasa tak berjalan,aku masih saja terus melangkah berharap akan
ada sesuatu yang dapat menghiburku di waktu senggang ini. Di saat aku sudah
mulai menyerah mencari-cari sesuatu yang aku nanti itu hatiku tersentak di kala
aku melihat seseorang yang dengan kasarnya menendang-nendang orang lain yang
sudah tidak berdaya, dan kebetulan di sana aku juga bertemu dengan seseorang
yang berharga bagiku sebut saja namanya “si kecil”, kelihatannya si kecil sudah
lama di sana sebelum aku datang. Di karenakan aku tidak mengerti dan tidak tahu
menahu apa yang tengah terjadi di depan mataku jadi aku bertanya pada si kecil.
“cil apa yang terjadi di sini ?” kataku. “ada orang yang merasa dirinya seperti
raja yang bebas menyuruh orang lain dengan seenaknya” kata si kecil. Mendengar
jawaban si kecil aku semakin tidak mengerti tapi Karena rasa kasihan sudah
tidak dapat aku tahan,aku pun memberanikan diri untuk ikut campur meskipun aku
tidak tahu apa masalahnya. Akhirnya aku pun menolong orang yang tengah di
aniaya itu. “kamu tidak apa-apa ? “ tanyaku. “aku tidak apa-apa” kata orang itu
yang setelah aku tolong akhirnya memperkenalkan dirinya dengan nama Deni.
Tetapi masalah tidak langsung berhenti setelah aku menolongnya berdiri dan
menghalangi orang satunya untuk terus bersikap menang sendiri, akhirnya tanpa
di duga aku pun terkena pukulan yang cukup keras di bagian kepalaku yang
membuatku hamper pingsan tapi masih dapat aku tahan. “kau ini siapa ? apa kau
mau ikut campur ? “ ujar orang yang sok itu.
“aku Ihsan, aku tidak tahan melihatmu seperti itu” kataku. “kamu siapa ?
apa masalahnya ?” kataku lagi. “aku Boy,lebih baik kau pergi saja jangan ikut
campur dari pada kau juga akan ku buat babak belur”. Aku hanya bisa menatap dan
bersiap-siap jika ada serangan dari boy lagi, sementara si kecil juga sudah
mulai ikut membantuku dengan cara menolong deni yang sudah mulai tidak sadarkan
diri. Setelah Deni sudah di bawa pergi si kecil aku juga sudah agak kerpotan
bercek-cok dengan Boy , akhirnya aku pun bisa melarikan diri karena aku merasa
tidak ada gunanya melawan orang yang tidak tau arti orang lain untuknya.
“pagi yang merepotkan” kataku. Di
sampingku saat ini ada si kecil yang berusaha membuat Deni sadarkan diri. “
kamu sudah mulai bodoh ya ?” tiba-tiba Si Kecil bilang seperti itu, aku jadi kaget
di buatnya, belum habis rasa kagetku Si kecil Kembali bilang “ Kamu udah bikin
masalah besar, apa kamu gak tau siapa boy tadi ? dya adalah salah satu anak
yang di takuti disini. Dya juga adalah anak dari salah satu orang yang memegang
kekuasaan di daerah ini”. Aku Cuman bisa meng-elus dada karena merasa kecewa
SiKecil yang biasanya senang kalau aku menolong orang yang lema tapi saat ini
sepertinya situasinya sedikit berbeda. “ udahlah cil, toh udah terjadi kan?
Gmana keadaan Deni?” dengan sedikit senyuman aku berusaha mencairkan suasana
agar si kecil tidak marah lagi padaku. “sepertinya Deni Mendapat luka yang
parah, sebaiknya kita bawa kerumah sakit. Tapi apa ya masalahnya tadi ?” kata
si kecil. “ loh ? aku kira kamu tau Cil !” lagi-lagi aku di buat kaget oleh si
kecil.
Ketika kami telah sampai di rumah
sakit, kami kembali membahas masalah yang terjadi tadi dari siapa Boy itu ?
Dimna dya tinggal dan semuanya yang si Kecil tau tentang Boy. Dan akhirnya aku
pun mendapati Boy adalah anak dari kepala desa di sini, aku tidak begitu
perduli tapi yang agak merepotkan yaitu Boy adalah bagian dari kelompok yang
udah lama gemar mencari masalah dan menjuluki diri mereka dengan nama “Putih”.
Aku tidak begitu mengerti mengapa mereka menjuluki diri mereka dengan nama itu
padahal yang mereka lakukan hanyalah membuat onar, tapi di sini lah
petualanganku dimulai. (eps1)